Cerita Dari Kalibaru # 1



Dian Printing Ditengah Kerasnya Persaingan Kalibaru


Di daerah yang dikenal dengan nama Kebon Kosong itu ia mengontrak rumah kecil-kecilan. Harga sewanya setahun sekitar Rp 1 juta. Dan kurang Rp 200.000 lagi, ia memiliki hak mengontrak atas tempat itu hingga tahun 2009. Rumah kontrakannya itu berukuran 3 meter x 7 meter, dibagi tiga sekat. Dua untuk ruang kerja dan satu ruang tidur. Kamar mandinya ada di luar dan biasa dipakai oleh lebih dari 20 orang.

Usaha Senin, dengan bendera Dian Printing, mulai terlihat berkembang di Kebon Kosong itu. Ia yang awalnya hanya memiliki satu mesin cetak numerik kini di tempat itu sudah ada tiga mesin cetak. Cabang usaha percetakannya di Pasar Pramuka juga memiliki tiga mesin cetak numerik. Semuanya hasil modifikasi. Satu unit mesin harganya sekitar Rp 1 juta.
http://www.blogger.com/img/blank.gif
Sekali waktu usahanya pernah sepi. Ia pun tergoda bujuk teman-temannya untuk minta bantuan kepada "orang pintar". Namun apa yang terjadi kemudian, tidak ada perubahan dalam usahanya. Ia pun kemudian sadar, "orang pintar" itu juga manusia.

Sejak itu ia lebih giat lagi mencari order. Selain order tetap dari mantan bosnya dulu, Senin juga tak segan-segan mencari order sendiri dengan masuk dan keluar International Trade Centre (ITC) Cempaka Mas, Mangga Dua, dan pusat-pusat niaga lainnya.

Hasilnya memang kemudian menjadi lebih baik. Dalam seminggu, dia bisa mengerjakan cetak numerik hingga ratusan rim bersama tiga karyawannya. Untuk tiap satu rimnya, dia mengambil untung bervariasi. Satu rim dengan cetakan nomor dua tempat harganya Rp 1.500- Rp 2.000. Tiga hingga empat nomor Rp 2.500-Rp 3.000. Yang paling mahal cetakan untuk delapan posisi numerik ongkosnya Rp 5.000.

No comments: